Selasa, 20 Desember 2011

Dark Morning

     “Pagi ma. Papa mana ?” Sapaku saat melihat mama sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
         
     “Masih tidur tuh. Coba gih kamu bangunin, dari semalam papa memang kurang enak badan. Makanya hari ini papa tidur nyenyak sekali.” Kata mama sambil terus menyiapkan sarapan untuk kami.

     Aku berjalan santai ke kamar papa. Ku buka perlahan pintu coklat berhiaskan bunga di tengahnya. Sesaat, aku mendengar sayup sayup suara TV masih menyala. Kupikir papa sedang menonton. “Papaaa ayo bangun. Sarapan sudah hampir siap.” Kataku sambil terus melangkah pasti menghampiri papa.

     Setelah aku sampai di pinggir kasur, papa tetap diam. Ah, papa masih tidur. “Pa, bangun pa.” Aku menggoyangkan tubuh papa. Saat aku memegang tubuhnya, aku merasa tubuhnya dingin sekali. Ku putar tubuh papa. Oh god, ada apa dengan papa? Mukanya pucat sekali.

     Segera aku teriak memanggil mama “Mamaaa, mamaaa...” Teriakku memanggil mama. Suaraku sudah sangat kencang, namun papa belum juga bangun.

     “Kenapa nak? Jangan teriak-teriak dong, bikin mama panik aja.” Setelah mama bicara begitu, aku berdiri membiarkan mama melihat keadaan papa. Setelah mama melihat keadaan papa yang sangat pucat, mama tergesa-gesa menaruh satu jarinya di bawah hidung papa. Setelah itu mama menangis kencang. Aku bingung kenapa mama nangis sangat kencang.

     “Ma, kok mama nangis? Papa kenapa ma? Papa sakit?” Kataku dengan suara bergetar. Aku juga hampir menjatuhkan air mata karena melihat papa yang sangat pucat dan mama yang menangis kencang.

     “Nak, papa sudah pergi meninggalkan kita. Papa sudah tiada sayang.” Katanya sambil langsung memelukku erat. Aku kaget. Apa yang barusan mama katakan? Apa maksud mama papa telah meninggal?

     “ENGGAKKKKK. PAPA MASIH ADA MA. PAPA BELUM MENINGGAL. PA, BANGUN PA. AKU GAK MAU PAPA PERGI. BANGUN PAAAAA...” aku teriak sekencang-kencangnya sambil menggoyangkan tubuh papa terus menerus. Tidak ada balasan apapun dari papa. Aku ikut menangis dengan mama. Saat aku sedang menangis sejadi-jadinya, mama langsung menghubungi kerabat-kerabat untuk memberi tahu bahwa suaminya telah meninggal dunia.

     Aku tetap duduk di samping papa. Aku masih belum rela kehilangan papa. Aku terdiam menatap muka papa yang sangat pucat. Aku menunggu keajaiban datang. Namun sia-sia, aku tau tak akan ada keajaiban untuk menghidupi papa kembali.

     Aku mendengar suara tangisan-tangisan kesedihan di luar. Entah siapa saja yang menangisi papa. Aku sudah tidak menangis seperti tadi, aku hanya termenung menatap papa. Hatiku tetap meraung-raung untuk membangunkan papa. Ya, mau teriak sekencang apa pun, papa tidak akan bisa kembali lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar